Jumat, 22 Desember 2017

Setitik Cahaya Datang

Kala itu, aku membuka diri. Setelah meninggalkan dan mengakhiri.

Setitik cahaya datang, remang remang mulanya. Masih abu abu nan kelabu. Aku bahkan tak tahu itu salah satu kesempatan atau kesalahan. Untuk ku yang kesepian, hadirnya Tuan memberi kembali warna yang sempat hilang. Begitu mudah terbawa perasaan, tanpa pernah mengenal dengan siapa aku ini berjalan beriringan dan dengan maksud apa Tuan ini datang.
Singkat untuk saling dekat, dengan dua cangkir kopi yang mulai dingin dan percakapan yang semakin hangat. Tawa yang selalu ada di akhir kalimat. Dan, ketika setitik cahaya penerang itu datang, ku anggap ini sebuah kesempatan. Untuk kembali melihat dan mendengar apa yang ada di sekeliling. Untuk kembali jatuh, cinta lagi.

Ternyata ketika sudah jatuh masih belum cukup untuk mempertahankan yang ada. Begitu singkat sebuah pertemuan pun begitu cepat berpisah. Tatkala yang kurasa kita benar benar sudah terbiasa bersama, dan memiliki berbagai hal yang sama. Itu semua bukanlah hal yang berarti baginya, bukan pula alasannya untuk mentap, lebih lama.

Datang memberi setitik cahaya penerang malam, lalu pergi tanpa pernah kembali.
Meski harus kembali mengakhiri, kisah ini begitu berarti.
Untuk Tuan, teman penikmat kopi hitam paling menyenangkan.

Sabtu, 04 November 2017

Perihal Mengerti dan Tahu Diri

Setelah sembilan hari berlalu. Setelah kamu memberi kejelasan dari kesemuan. Dan, setelah itu pula aku baru tahu. Bahwa aku tak mampu.

Tak ada malam yang lebih dingin dari menunggunya Tuan untuk pulang. Tanpa pesan, tanpa pernah memberi tanda ketika pergi. Tak ada hari yang paling sepi dari menggunya Tuan memberi kabar. Sepele memang. Perihal ini bisa dimengerti. Tapi, berhari hari menanti jadi tekanan hati.
Tak seperti kepada wanitanya yang dulu, Tuan ini penurut; takut. Tak seperti kepada masa lalunya, Tuan ini sangat mencintainya.

Kali ini perihal mengertiku tentangmu. Yang ingin begitu bebas tanpa ditekan, semena mena pergi lalu ntah kapan kembali. Puan ini hanya bisa menunggu termanggu. Miris, cintanya seolah tak terbalas, penuh kenestapaan. Sebenarnya Tuan ini mengakui tidak hadirnya Puan? Ada yang selalu menunggu Tuan. Apa susahnya memberi tanpa diminta? Seperti awal bertemu, Tuan selalu menemani tanpa pernah Puan minta. Hadirmu Tuan, yang paling diharapkan.

Dan, perihal tahu diri. Jikalau Tuan ingin membebaskan diri, Puan mengerti, Tapi sekiranya, bukan seenaknya. Puan hanya ingin dihargai, sebagai wanita yang benar benar Tuan cintai.

Rabu, 04 Oktober 2017

Kembali lagi

Setelah sekian lama aku rasa perasaan ini akan memudar. Ternyata kamu hanya dapat kuingat daripada kulupa. Kepergianmu menyisakan banyak luka. Bahkan aku masih mengenang segala yang pernah ada tentang kita. Terlebih berada di kotamu, seakan buatku kembali pulang ke dalam dekapmu. Walau tubuhmu tak lagi dapat kujamah, walau kamu lebih memilih bersamanya.

Teringat kota kembang ini pernah membahagiakan sekaligus menyakitkan. Melewati jalanan yang pernah kita lalui, membayangkannya kembali terasa sangat menyakitkan teringat kamu bukan lagi untukku dekap, bukan lagi tempat untukku pulang.

Kamu butuh waktu untuk melupakanku, katamu. Tapi aku tak pernah mampu untuk sekadar menghilangkan kamu dari benakku. Mengapa begitu sulit untuk melupa? Sedangkan kamu sudah berbahagia. Ku coba mencari pengganti, tapi dia bukanlah dirimu. Ku coba berlari menjauh, tapi langkahku selalu mengarah padamu.

Sabtu, 30 September 2017

Tanpamu Kini hingga Nanti

Hati ini kalut, terus berdebar. Pikiranku tak karuan, senyum terus mengembang setiap pertemuan.
Kamu, pemberi rasa tegar. Penguat hati paling andal.

Hari demi hari kita lewati. Melukiskan pelangi setelah hujan. Menghilangkan rasa sesal yang tersimpan. Memberi payung sebelum langit menjatuhkan airnya. Menjaga hati yang tlah rusak olehnya. Sesederhana itu kita saling melengkapi. Berbagi sakit yang dialami, menggantikannya dengan senyum dan tawa. Walau kadang langit tak secerah biasanya, malam tak lagi terasa tenang seperti biasanya. Hadirmu, mampu mengubah mendung dan malam kelam itu. Sesederhana itu, hadirmu mampu mengubah hariku.

Hingga suatu saat. Tanpa adanya tanda, kau pergi ntah kemana. Tanpa memberi isyarat bahwa kau tak lagi ada. Hadirmu tak sesering dulu. Senang sekali menghilang. Tanpa adanya penjelasan. Tak mampunya aku, menahan rasa pilu sendirian. Asal kau tahu. Aku ini tak sekuat yang kau pikirkan.

Yang ku percaya selama ini, kau selalu ada. Berjalan beriringan, memikul beban. Kini semua hanya angan-angan. Hanya bayang yang ku lihat, hanya bayang yang ku gapai.

Tak apa hati, kamu harus merasa sepi sebelum ramai. Kamu harus merasa sakit sebelum disembuhkan. Sekarang tinggal bagaimana aku bertahan, dengan atau tanpa kamu untuk menguatkan.

Terbiasalah hati, jangan terus menanti. Terbiasalah tanpa hadirnya, kini hingga nanti.

Sabtu, 22 Juli 2017

Mati Rasa Ini

Selamat malam, kelam. Aku sudah tak menghitung hari untuk merasa muram. Ntah sampai kapan aku selalu geram; kepada diri ini. Tak mampu memaafkan, segala yang telah terjadi. Karena, kesalahan itu yang ku ulangi.

Pagi, beri aku sinar mentari. Bawa aku dari kesuraman ini. Beri aku kehangatan dari rasa yang telah mati ini. Arahkan jalanku untuk pulang, matahari; ada yang terlewatkan. Masih adakah seseorang yang menunggu ku 'pulang'? Mengharapkan kehadiran ku? Apa masih ada?

Walau aku tak mampu lagi berdiri, setidaknya aku masih bertahan disini. Melihat kamu merintihkan air mata karena hati ini. Mati rasa akan kasih yang kau beri. Menutup hati kepada seseorang yang ingin mengerti. Walau aku sudah buta, setidaknya aku masih mendengar kata kata mu memohon untuk aku kembali. Kata kata mereka yang menuntut ku memperbaiki. Namun, kamu harus tau. Hati ini sudah tuli, buta dan mati. 

Hanya menunggu waktu, hingga kamu sadari. Apa yang kau lakukan selama ini. Berakhir sia sia.
Hanya menunggu waktu, hingga kamu benar benar letih akan kehadiran ku ini.

Jumat, 19 Mei 2017

Pergilah

Sadarlah aku bukan segalanya, dan aku takkan selalu ada. Semakin kau dekap maka semakin terlukalah kamu. Kamu tahu perjalanan cintaku penuh luka. Ini peringatan walau menyakitkan. Yang kau harap menyembuhkan malah menyakitkan.
Kata mu cinta adalah tentang perjuangan namun menyerahlah perjuangan mu tak lagi dihargai.
Yang kau puja hanya sia sia, tak berharga.
Lelah sudah? Menyerah? Terserah.
Kamu tau sekarang semua hanya bualan.
Semua yang kau telan begitu manis hanyalah dusta.

Aku tak lagi bisa merasakan hangat dan manisnya cinta, hingga aku dapat mencintai diriku sendiri. Hingga aku dapat mencintai orang lain, tanpa menjadi 'orang lain'.

Untuk kamu,
Terimakasi atas usahamu.
Maka,
Tinggalkan saja aku ini, si pendosa penuh luka.

Jarak dan Waktu

Waktu terus berjalan, tak melihat kebelakang siapa yang terluka dan siapa yang disembuhkan lukanya. Jarak terus terbentang, tanpa memikirkan siapa yang dipisahkan dan seberapa banyak rasa rindu ada karenanya. Mereka tak pernah perduli apa yang sedang dan sudah terjadi. Apa kamu tahu, kenapa aku membicarakan waktu dan jarak? Mereka ada di sekeliling kita. Membuat luka lalu menyembuhkannya, memisahkan kita lalu mempertemukannya.

Jarak mengajarkan kita seberapa setianya kita untuk kembali 'pulang', juga menguji kesabaran akan rintangan. Aku rasa, yang telah kita lalui selama ini hanya menentangnya. Membuatnya menjadi halangan, padahal hari yang kita lalui bukan hanya seminggu atau satu bulan. Tapi, masalah terbesar kita selalu terjadi karenanya. Tidakkah kamu berfikir? Dengan adanya jarak kita sering merasa rindu, memiliki ruang sendiri, mengurangi rasa bosan. Nyatanya? Sebaliknya. Bukan aku ingin kita tak sering bertemu, tapi aku rasa aku juga butuh ruang sendiri. Menghalangkan rasa penat dan sesak. Berhenti memperumit hubungan, bahkan waktu masih belum menyembuhkan. Telalu lama aku bertahan dengan rasa sakit. Tidakkah kamu lelah?

Jika keadaannya tak pernah membaik, bagaimana caranya aku bertahan atas semua rasa sakit?

Matahariku

Teruntuk matahariku, aku tak pernah menyesal akan takdir. Aku senang kamu hadir. Memberi rasa hangat dan nyaman. Kamu pendatang paling mahir, dan aku harap kamu yang terakhir.

Aku tak ingin menaruh hati terlalu dalam. Katamu, "Jangan berharap lebih dari seseorang, liat diri kamu sendiri apa yang kamu mau harus kamu kejar dengan usaha kamu sendiri". Kamu benar, hidup itu soal pilihan bukan?

Jika malam ini, esok atau nanti kamu mengakhiri, hanya satu yang ingin aku ketahui, tetaplah menjadi apa yang kamu inginkan; hidup untuk orang lain. Perjuangkan apa yang layak kau perjuangakan. Kamu tahu bukan mana yang pantas mana yang tidak?

Atau kemungkinan terburuknya, jika aku yang mengakhiri. Ketahuilah, langitmu ini pernah melewati masa abu-abunya; langitmu ini pernah kau sinari.

Matahari, terimakasih selalu menyinari.

Selasa, 02 Mei 2017

Dingin

Sepanjang sore ini kotaku diguyur hujan, deras sekali lalu mereda; namun tidak benar-benar berhenti. Sialnya aku tak membawa pakaian hangat, hanya memakai pakaian tipis dan tudung kepala. Angin bertiup kencang menerpa tudungku. Mukaku terkena rintik hujan. Bajuku yang tipis mulai basah.

Tak masalah sebenarnya, selama aku bersamanya. Tapi percuma, dia sama dinginnya seperti cuaca. Tatapannya tak bersahabat. Tak ada genggaman. Apalagi dipinjamkan baju hangat, menengok pun tak pernah. Jemariku membeku. Badanku menggigil. Tak ada kehangatan.

Dingin, merasuki tubuh ini. Sesak, padahal banyak angin berlalu. Aku tak banyak berharap, tak perlu kau dekap. Hanya ingin bercakap, lama kita tidak bertemu bukan? Terakhir kita bertemu, kamu dalam amarah. Sama seperti sore ini. Menyesakkan.

Sore ini, kotaku diguyur hujan. Dingin. Tak ada kehangatan.

Hidup adalah Masa lalu?

Mungkin memang aku terlalu lama mengenang dan berteman dengan masa laluku, hingga tiap bayang bayangnya menghantui aku tidak lelah untuk ter...